Thursday, March 16, 2017

Wisata kuliner jalan-jalan di pabrik tahu dijakarta

resep jalan-jalan di pabrik tahu dijakarta
Anda penyuka tahu? Olahan kedelai yang gurih dan menyehatkan ini, memang lezat. Mau digoreng biasa, maupun diolah menjadi masakan, tak kalah nikmat. Nah, tahukah Anda, di salah satu sudut kota Jakarta, ternyata masih ada perkampungan yang memproduksi tahu secara tradisional. Memasaknya pun hanya mengandalkan kayu bakar. Mari kita lihat prosesnya.
    KELURAHAN PELA Mampang, di Kecamatan Mampang Prapatan Jakarta, ternyata dihuni oleh sekelompok masyarakat perajin tahu tradisional. Lokasi tepatnya sekitar 2 km menyusuri JI. Bangka IX. Membuat tahu bukanlah hal yang Baru bagi mereka. "Umumnya kami meneruskan usaha secara turun­temurun," jelas Bpk. Uung (42 th), seorang perajin yang meneruskan tongkat estafet usaha ini sejak tahun 2004 lalu dari orang tuanya.

    Lokasinya sama sekali tak mengisyaratkan adanya pabrik tahu. Tak ada cerobong asap atau bangunan khusus. "Semua kami buat di dalam rumah saja," imbuhnya.
    Menurut Uung, dulu tak sedikit warga betawi di sekitarnya yang membuka usaha tahu. Namun seiring waktu, tak sedikit yang beralih mencari pekerjaan lain yang dinilai lebih baik. Ada juga yang membuka bisnis di bidang lain. "Jadi mungkin sekarang hanya sekitar 4 keluarga yang masih membuat tahu ini," imbuhnya.
    Di "pabrik" mungilnya yang berukuran 9 meter persegi inilah, setiap hari, Uung memproduksi tahunya. Pabrik yang berdiri sejak tahun 1970 ini, cukup sederhana. Hanya terbuat dari bilik bambu, dilengkapi dengan sejumlah drum besar serta alat penggiling kedelai yang terlihat cukup berumur.

Dimulai dari kedelai
    Uung memulai aktivitas pembuatan tahu scat dini hari. "Setiap pukul 3 subuh, kami sudah mulai menggiling kedelai," ujar pria yang tadinya menekuni bisnis biro jasa ini.
Dalam sehari, is mampu menggiling hingga 120 kilogram kedelai untuk diambil sarinya. Kedelai yang akan digiling harus direndam dulu. Paling tidak, selama 4 jam.
"Tujuannya agar kedelainya lebih empuk sehingga hasil gilingannya bagus," jelas pria yang memiliki 6 karyawan ini.

    Air perendamnya cukup air bersuhu biasa. "Jangan pakai air panas, lo," tegasnya.
Kedelai ini lantas digiling dengan alat penggiling tradisional. Caranya, dengan memutar
tuasnya. Hasilnya akan lumat seperti sagu. Oleh karena itu, hasilnya disebut sagu kedelai.
Selanjutnya, sagu kedelai ini ditampung di dalam drum besar yang tingginya mencapai 1,5 meter. Kemudian dilanjutkan dengan perebusan. Proses ini bisa memakan waktu 1-2 jam, ter­gantung kualitas kayu bakar. "Jika apinya bagus, mungkin hanya 1 jam sudah cukup," imbuhnya.
    Kayunya sendiri berasal dari kayu-kayu bekas bangunan. Karena ukuran drum yang besar, Uung mengakali ukuran tungku pem­bakarannya dengan menggali tanah di bawah drum. Lubang inilah yang digunakan untuk memasukkan kayu bakar. "Jadi lebih praktis ketimbang meng­gunakan tungku," jelasnya.
    Usai direbus, sari kedelai jadi lebih cair. Bentuknya menjadi mirip susu. Pada proses inilah sari kedelai disebut susu kedelai. Adonan ini lantas disaring untuk memisahkan sari kedelai asli dengan ampasnya. Penyaringan ini menggunakan kain yang dibentangkan di atas tahang yang mirip dengan ember pendek berbahan kayu, diameter 1,5 meter.
    Setelah terpisah, ampas akan diletakkan dalam baskom. Sedangkan sari kedelainya siap diproses menjadi tahu. 

Diberi biang tahu
    Sari kedelai ini baru bisa menjadi tahu bila diberi biang. Para perajin tahu menyebutnya dengan nama cuko. Fungsinya untuk mengentalkan sari kedelai tadi hingga lebih padat dan dapat dicetak.
    Dicetaknya pun menggunakan selembar kain, yang disebut kain batis. Kain ini seratnya besar dengan ukuran 15 x 15 sentimeter. Agar tak luber keluar, kain diberi alas dari batok kelapa yang dibentuk menjadi lingkaran seperti cincin. Selanjutnya, sari kedelai tinggal disendokkan ke dalam kain batis, lalu rapatkan bagian atasnya sehingga berbentuk persegi empat.

    Ukurannya pun ada dua, kecil dan besar. Jadi untuk membuat tahu yang besar, tentu sari kedelai yang di­masukkan lebih banyak. Selanjutnya, kain ini diletakkan di atas cetakan kayu. Nampan kayu ini mampu memuat 25 buah tahu.
    Jika sudah penuh, langsung ditindih dengan nampan lain dan ditumpuk. Agar hasilnya lebih padat, tumpukan ini ditindih lagi dengan kaleng berisi air. Proses penindihan ini dilakukan selama 10 menit.
    Tahu ini kemudian dilepas dari kain, dan direndam dalam air agar tidak mudah hancur. Uung menjual tahunya dengan harga Rp 200 untuk yang kecil, dan Rp 500 yang besar. Tahu yang diproduksinya hanya jenis tahu putih saja.
    Selain Uung, ada juga Bpk. Asmuni (45 th) yang juga memiliki usaha tahu.
Kapasitas produksinya pun lumayan besar. Dalam sehari, ia mampu memroses 500 kilogram kedelai menjadi tahu. "Soalnya beda gaya pemasarannya," jelas Asmuni yang memulai usahanya sejak tahun 1973 ini. Jika Uung menunggu pembeli, Asmuni justru memasarkannya sendiri   hingga ke pedagang di pasar.
    Namun tak sedikit masyarakat sekitar yang berbelanja tahu langsung di pabriknya. "Sepertinya, hampir tiap hari warga di sini memakan tahu," jelas Uung.

    Tak sedikit yang sudah berbekal piring yang dibawa dari rumah untuk wadah tahu. Khusus untuk pembeli partai besar, ada kemasan kaleng yang mampu memuat 200 buah tahu. "Biasanya untuk hajatan atau dibuat menjadi makanan lain seperti bakso tahu atau siomay," tambahnya.

Oncom berbahan ampas tahu

    Lantas bagaimana dengan nasib si ampas tahu. Ternyata alih-alih dibuang, malah dibikin oncom. Pengolahnya adalah Bpk. Zarkoni. Awalnya, ia merasa sayang melihat ampas tahu yang tersia­sia dalam jumlah banyak. "Sayang jika dibuang," ujarnya.
    Proses membuat oncom ini memakan waktu yang lebih lama ketimbang membuat tahu. Pertama, ampas dicuci, dikeringkan. Lalu dikukus lebih hingga bentuknya seperti butiran nasi. Selanjutnya dilumatkan dengan menggunakan saringan kawat yang ukuran lubangnya 1 sentimeter. Bahan ini lantas diberi biang oncom agar terjadi proses fermentasi.
    Ampas akan dijemur hingga berjamur. Warnanya khas, oranye kekuningan. Oncom ini diletakkan  berderet-deret di atas rak setinggi 2 meter. Setelah dua hari, oncom akan dibalik agar ragi menyebar rata. Setelah kuningnya merata, oncom pun siap dijual atau dikonsumsi.

Wisata kuliner pemalang

resep Wisata kuliner pemalang
   Pemalang terletak antara Tegal dan Pekalongan, jawa Tengah. Meski terjepit, toh, kota ini punya beberapa masakan unik yang menggoda selera. Sotonya, misalnya, disuguhkan dengan opor. Lalu kuah sotonya? Nah, simak keunikan mereka.
 NASI GROMBYANG
   Nasi grombyang adalah masakan khas kota Pemalang. Di setiap sudut kota banyak penjaja yang menawarkan masakan ini. Namun yang paling tersohor adalah nasi grombyang H. Warso.
   Sebutan nasi grombyang tak lain karena nasi disajikan dengan banyak kuah. Begitu diaduk, nasi langsung bercampur dengan kuah. "Itu sebabnya disebut nasi grombyang," kata Bpk. Warso, sang pemilik.
   Usaha Warso ini dimulai dari orangtua Warso. Jadi is hanya sebagai penerus. "Saya mulai mengurusi usaha ini sejak tahun 1978," cetus pria yang membuka warung di jalan RE. Martadinata, Pemalang ini.
   Mencari warung ini juga mudah. Letaknya tepat di ujung jalan. Bahkan siapa pun yang Anda tanya, pasti bisa mengarahkan Anda ke sana. Perjalanan Anda tak bakal mengecewakan. Anda akan menemukan nasi dengan kuah kecokelatan yang harem dan panas. Sepintas mirip dengan rawon, hanya daging yang digunakan daging kerbau.
   "Bumbunya juga pakai kluwek, kok. Cuma nggak sebanyak rawon," terang pria ramah ini.
Untuk temannya, tersedia sate daging sapi dengan ukuran besar. Kendati namanya sate, tetapi pembuatannya hanya direbus bersama bumbu iris. Penyajiannya sama dengan sate. Ditusuk dan disiram bumbu.
   Semangkuk nasi grombyang dihargai Rp 5 ribu. Satenya Rp 1.000 per tusuknya. Anda bisa memakannya di tempat atau dibawa pulang. Sekadar tahu saja, nasi grombayang made in Warso bisa bertahan sampai 3 hari.

LONTONG DEKEM & SATE AYAM 
   Beberapa meter dari Nasi Grombyang H. Warso, Anda bisa menemukan lontong dekem dan sate ayam milik Darsono dalam warung tenda "Sate ayamnya ada 2 jenis, berkuah dan digoreng" kata Aria yang sudah berjualan sejak tahun 1990 ini.
   Kuah untuk satenya mirip dengan kuah opor, tapi lebih encer. Sementara sate goreng yang terdiri dari hati ampela itu ditabur serundeng.
   Biasanya begitu duduk, kita sudah disuguhkan 5 tusuk sate. Maksudnya, sambil menunggu pesanan, Anda mencicipi sate ayam. Sotonya sendiri cukup unik. Potongan lontongnya besar dengan diameter 10 cm. Potongan lontong ini lantas disiram kuah berulang-ulang sampai hangat sebelum akhirnya disiram banyak kuah, ditaburi kerupuk dan banyak bawang goreng.
   Warung tenda ini buka pukul 17.00 dan tutup pukul 23.00. Selama 6 jam berjualan, Darsono bisa menghabiskan 4 ekor ayam yang setara dengan 250 tusuk sate.
   Setiap tusuk sate oleh Darsono dijual dengan harga Rp 1.000. sementara semangkuk lontong dekem dihargai Rp 2 ribu.

LONTONG SOTO AYAM
   Tepat di samping warung tenda Darsono, ada penjual lontong soto ayam. Menu masakannya tidak jauh berbeda dengan lontong dekem. Sama-sama memakai lontong dan sate ayam.
   "Bedanya di bumbu. Lontong soto ayam pakai taoco. Ayamnya juga dimasak dengan    kuah opor," terang Sri,    pemilik warung yang menggantikan sang ibu.
"Ibu saya masak di rumah," lanjutnya.
   Sesuai dengan namanya, lontong ini disajikan bersama taoge dan suwiran ayam. Uniknya, kuah soto tidak disiramkan ke atas lontong untuk disantap, tetapi hanya untuk menghangatkan lontong. Jadi, setelah lontong disiram berulang-ulang dengan kuah soto, akan ditiriskanlagi dengan cam menunggingkkan mangkuknya. Sementara lontongnya disantap bersama kuah opor dan olahan taoco yang rasanya cukup pedas. Sate pun disantap bersama taoco ini.
   Keunikan soto ini, disantap bersama bubuk tulang ayam yang digoreng sampai renyah. Rasanya gurih dan garing, mirip kerupuk. `Tulang itu nggak boleh ketinggalan. Nggak enak nantinya,"kata Sri.
Semangkuk soto dijual Rp 3 ribu. Sate Rp 1.000 tiap tusuknya.

LONTONG DARMA
   Lontong Darma mirip dengan lontong soto. Sama-sama memakai lontong dan sate ayam. Bedanya, ditambah potongan mendoan. Kamsuri (60), sang pemilik adalah penerus ketiga usaha milik keluarganya. "Resep dan cara masaknya hanya diturunkan pada keluarga" cetusnya. Sampai sekarang teknik pengolahan lontong darma tetap sama seperti dulu.
   "Bahkan sampai sekarang saya penyedap Wong, dulu diajarinnya begitu, kok" katanya meyakinkan.
Rasa gurih diperoleh dari pemakaian santan dan garam. Selain cara memasak, penyajian lontong
darma masih sama seperti lulu. Memakai 3 buah piring untuk lontong, sate ayam, dan bumbunya. pembeli bisa ngatur sambal atau bumbu sendiri."
   Lontong Darma buka sejak pukul 09.00 sampai pukul 14.00. Maklum saja, kelezatan lontong Darma cuma didapat di sini, tidak dijual di tempat lain. Setiap hari sedikitnya 10 ekor ayam habis dibuat menjadi 400 tusuk sate. Sementara lontongnya membutuhkan 5 liter beras.
   Soal harga, Anda tak perlu pusing. Dengan uang Rp 3 ribu sudah mendapat sepiring lontong. Kalau mau tambah sate, cukup menambah Rp 1.000 per tusuknya.

SATE LOSO
   Seperti halnya lontong Darma, sate loco pun hanya bisa dijumpai di satu tempat, di jl. Urip Sumoharjo, samping rel kereta api. "Saya adalah penerus keempat usaha ini. Pendirinya, Pak Loso, buyut saya," jelas Indah, pemilik yang sekarang.
   Sesuai dengan resep yang diperolehnya, Indah hanya berjualan sate dan sop. Tidak ada menu lain. Sate yang dijual Indah adalah satu-satunya sate yang dibakar di Pemalang.
"Tapi sebelumnya sudah dibacem dulu,"aku wanita berambut sebahu ini.
   Sate dibuat dari daging sapi atau kerbau. Hampir semua bagian sapi diolah menjadi sate. "Makanya pembeli selalu milih sate yang diinginkan. Misalnya, daging saja atau jeroan saja,tambah nenek dari 2 orang cucu ini.
Untuk menikmati sate loso, pembeli bebas memesan sesuai kebutuhan. Seporsi sate berisi 10. Setengah porsi atau beberapa tusuk pun akan dilayani. Yang penting Anda membayar Rp 1.400 untuktiap sate yang Anda santap.
   Sedikitnya 300 tusuk sate dibuat Indah dari 10 kilogram daging dan jeroan diolah menjadi sate. "Biasanya saat ramai sate sudah habis antara pukul 14.00 sampai pukul 15.00. Tapi kalau sepi, sore baru habis," terang lndah.


NASI TAHU
   Bosan menyantap masakan dengan sate sebagai pelengkap, coba cicipi nasi tahu. Makanan khan Pemalang ini benarbenar tanpa daging, hanya tahu dan sayuran.
   Penyajiannya juga gampang. Nasi yang masih mengepul, diberi potongan tahu goreng. Di atasnya ditambah irisan kol mentah, taoge, kerupuk, dan bawang goreng. Terakhir, disiram saus kacang bercampur kecap.
"Rasa saus cukup manis. Makanya, saya ngasihnya sedikit-sedikit," Kata Bu Kus, si penjual.
   Sebagai pendamping, tersedia juga gorengan seperti bakwan, tempe mendoan, atau ati ampela. Di sini dengan membayar Rp 2 ribu, Anda sudah bisa menuntaskan rasa lapar.

TAHU CAMPUR
   Mirip dengan nasi tahu. Hanya, tahu campur memakai lontong sebagai pengganti nasi. Untuk sayurnya, samasama memakai taoge dan kol.
   Sambal kacang encer yang disiram menambah kuat rasa si tahu campur ini. Dilengkapi pula dengan kerupuk mi, kecap, serta bawang goreng. "Kalau suka, bisa ditambah sambal, lo,"kata Rohman.
   Sudah 3 tahun ini Rohman berdagang tahu campur "Dulu ibu saya adalah pedagang tahu campur yang cukup terkenal di sini. Sayangnya sempat berhenti beberapa tahun karena digusur Pemda," ungkap laki-laki yang bertekad meneruskan usaha ini.
   Kini warung Rohman ramai dikunjungi orang saat makan slang. 'Yang dicari, ya, tahu campur itu tadi," papar pria yang berdagang sejak pukul 09.00 sampai pukul 20.00 ini.
Tahu campur buatan Rohman memang lain. Rasanyatidakterlalu manis, walaupun sudah ditambah kecap. Rahasianya ternyata ada di sambal kacang yang dipakai.
   Sedikitnya 8 jenis bumbu dapur dipakai untuk meramu sambal. Antara lain bawang putih, kemiri, gula merah, gula putih dan wijen. Tidak cuma itu, lo, tahu yang dipakai pun hanya tahu putih besar dengan mutu bagus dan digoreng saat akan disajikan.
   Selain tahu campur, Rohman juga menawarkan soto sebagai pilihan. Soto ini berisi potongan lontong, taoge, daun bawang, dan kerupuk mi. Plus sedikit taoco yang diolah bersama aneka bumbu. Kuahnya adalah kuah santan.
   Untuk menikmati kedua jenis masakan itu, Andatinggal menyediakan uang Rp 2.500. untuk tahu campur dan Rp 3 ribu untuk semangkuk SOT0

Wisata kuliner puncak

resep Wisata kuliner puncak
   Perjalanan pertama adalah ke Rumah Makan Mirasa, rumah makan ini berada di kiri jalan menuju Puncak. Kami memilih duduk lesehan agar bisa menyelonjorkan kaki yang pegal. Menurut pelayannya, Ikan Gurami Bakar adalah makanan paling spesial di sini. Selain itu, Nasi Timbel, Pepes Bandeng, Mendoan, Sambal Oncom Leunca, dan Sambal Oncom Genjer juga tak boleh dilewatkan.
    Setelah menunggu 15 menit, pesanan datang. Aroma yang harum dan penampilan makanan sangat menggoda saya untuk segera mencicipi. Tanpa menunggu lama, saya langsung mencuil daging ikan bakar dan mencocolnya ke dalam sambal berwarna merah yang merupakan penyerta ikan bakar ini. Daging ikannya kenyal dan dan tidak amis. Bumbunya pun meresap sampai ke bagian dalam.
    Ternyata, ada triknya, yaitu ikannya dibakar di atas bara api dari batok kelapa sambil dioles mentega. Setelah 3/4 matang, ketika ikan mulai mengeluarkan cairan, barulah bumbu dioleskan ke permukaan ikan.
    Hasilnya, bumbu mudah meresap ke dalam daging dan jadilah ikan bakar yang harum, gurih, dan agak manis. Selain itu, saya juga tak henti mencomot pepes bandeng dan Sambal Oncom Leunca. Keduanya sama-sama enak dan pas rasanya!
    Sasaran selanjutnya Kedai Sunda Cipayung. Bangunan berwarna hijau tua dengan dinding anyaman bambu dan beratap daun kelapa kering ini cukup terbuka, sehingga dari jalan raya saya leluasa melihat orang yang sedang makan di dalamnya. Wah, karena saat itu sudah menjelang makan siang, rumah makan ini terlihat penuh. Saya sempat khawatir tidak mendapat tempat duduk.Tapi untunglah, seorang pria berseragam menghampiri dan dengan mencarikan tempat duduk.
    Mata saya langsung tertuju pada sederet makanan di atas meja panjang. Buat saya yang `gila' sambal, melihat tujuh macam sambal: sambal terasi, sambal oncom, sambal mangga muda, sambal kemangi, sambal bajak, sambal tomat, dan sambal gandaria, otomatis membuat lapar mata. Selain sambal, tampak juga pepes dengan tujuh variasi, yaitu pepes tahu, pepes teri, pepes ikan mas, pepes oncom, pepes jamur, pepes ayam, dan pepes peda.
    Di meja tetangga, terlihat pesanan berupa ayam bakar dan ikan gurami goreng berbumbu sambal yang menggiurkan. Saya pun bertanya kepada pria yang tadi mencarikan tempat duduk. Katanya, kedua makanan tersebut adalah sajian favorit kedai ini. Pria tersebut ternyata adalah Herryanto, pemilik kedai ini. Mungkin, karena keramahannya itu, kedai ini seolah tak surut pelanggan.
   Tak sabar untuk segera mencicipi, saya cuil daging ayam bakarnya. Terasa gurih dengan harum khas makanan bakaran dan manis yang agak berbeda dari biasanya. Rahasianya terletak pada bumbu yang terbuat dari sari tebu berbentuk seperti pasta wijen yang dicampurkan bersama bawang putih, kemiri, ketumbar, dan kecap. Bumbu tersebut kemudian dibalurkan pada permukaan ayam sebelum dipanggang. Enak sekali! Lain lagi dengan Gurami Cobeknya yang diguyur sambal merah pekat. Ikannya garing, dan pada sambalnya, terasa benar rasa kemiri dan terasinya.

    Jika ingin makan makanan yang ringan tapi mengenyangkan, mampir saja ke Saung Pang Lawung milik H. Hihin yang menyajikan Bubur Ayam Cianjur. Sepintas, buburnya sama seperti bubur ayam pada umumnya, ada bubur nasi, daun bawang, daun seledri, hati-ampela ayam, dan kuah berkaldu gurih. Yang membedakannya adalah perkedel goreng dan kerupuk khas Cianjur. Kerupuk berwarna kombinasi merah muda dan putih agak kekuningan ini wajib ditaburkan. Jika tidak, bukan Bubur Ayam Cianjur namanya. Bila suka, kuning telur ayam dapat dicampurkan ke dalam bubur mendidih sehingga terasa lebih gurih.
    Saya juga memesan Soto Santan Daging. Seperti namanya, soto ini berkuah santan sehingga rasanya gurih, tapi tidak enek, malah terasa ringan dan segar. Apalagi setelah ditambahkan air jeruk nipis dan acar mentimun. Segar, mirip soto betawi! Pas sekali dimakan di udara pegunungan yang dingin.
    Rumah makan Sunda lain yang juga saya singgahi adalah Rumah Makan Dulang. Seorang teman yang tahu saya akan menjelajahi Puncak, wan ti-wanti untuk mampir ke rumah makan ini dan memesan Gurami Terbang, Kangkung Terasi Hotplate, dan Sambal Dadakan. Ternyata, saran teman saya oke juga. Cita rasa makanannya fresh karena memang menggunakan sayuran segar. Sensasi bersantap lain saya rasakan saat mampir di Rumah Makan Mirasari. Rumah makan yang juga membuka cabang di Jakarta ini terkenal akan sajian Nasi Goreng Kencur-nya. Nasi gorengnya tidak berwarna cokelat seperti nasi goreng umumnya, melainkan putih. Penyajiannya disertai beberapa iris kencur yang digigit akan terasa sedikit pedas seperti permen mentol. Selain mengenyangkan (tentu saja), tubuh pun jadi terasa hangat.
    
    Mendekati warung satai, tujuan kami selanjutnya, saya sengaja membuka jendela dan mematikan AC mobil untuk merasakan sejuknya udara pegunungan. Dari jauh sudah terlihat asap mengepul disertai samar-samar harem aroma satai yang sedang dibakar. Di papan yang terdapat di muka rumah makan tertulis Warung Sate H. Kadir. Nah, ini adalah salah saw warung satai yang saya incar, sebab saya penasaran pada Satai Buntut Kambing-nya yang jarang ada di warung satai lain.
    Satai ini dibuat dari buntut kambing yang dipotong-potong, kemudian ditusuk pada tusuk satai, lantas dibakar. Rasanya manis dan gurih, walau belum dibalut bumbu kacang atau bumbu kecap. Saking enaknya, setelah dagingnya habis saya lahap, sisa tulang buntutnya pun saya sesap. Pantaslah kalau setiap harinya, warung satai yang berdiri sejak tahun 1997 ini ramai dikunjungi pelanggan. Warung Sate PSK (Penggemar Satai Kiloan) yang kondang di kawasan Cibubur, ternyata juga saya temukan di sini. Agar tak terlalu kenyang, saya hanya memesan 1/2 kg daging kambing yang bisa menjadi 12 tusuk satai. Dagingnya terasa empuk, karena menggunakan daging kambing muda. Selain itu, saya juga memesan seporsi Sup Iga yang berkuah bening. Kuahnya ringan dan tidak terlalu berlemak. Rasanya makin nikmat saat disantap bersama sambal, acar, dan air jeruk nipis.

    Warung satai lain yang tak kalah populer adalah Warung Sate Shinta, yang sudah membuka empat cabang di sepanjang jalur Puncak.Yang paling favorit memang satai kambing. Serat berupa lemak pada daging kambing yang sering membuat satai jadi alot, sengaja disisihkan sehingga setiap potong daging jadi benar-benar empuk. Jika tak suka daging kambing, Anda dapat memilih satai ayam atau satai daging sapi. Bila ingin satai yang lebih awet panasnya, pengunjung dapat meminta pelayan mengganti piring dengan hotplate. Bumbunya pun sengaja dipisah, sehingga setiap tusuk satai hams dicelupkan ke dalam bumbu sebelum disantap.
    Satu lagi rumah makan yang terkenal akan sajian satainya adalah Rumah Makan Bumi Aki. Saya memesan satai kambing dan satai ayam. Karena telanjur kenyang dengan satai kambing, saya pun memilih satai ayam untuk dicicipi terlebih dahulu. Daging dada ayam dengan potongan cukup besar ini terasa empuk. Bumbu kacangnya yang masih agak kasar tersalut sempurna pada setiap tusuk satai. Rasanya gurih dan manis.
    Jika ingin hidangan lain, Anda bisa memesan hidangan ala Sunda, seperti gado-gado, karedok, dan tongseng. Di tempat ini, saya dapat beristirahat sejenak dan salat di musala yang tersedia di lingkungan rumah makan ini.

   







Soto Kudus Kliwon, begitu nama yang terpampang pada papan reklame di muka restoran. Makanan jagoannya, sudah pasti soto kudus. Saat disajikan, tercium aroma bawang putih goreng yang cukup tajam dari uap panas sow kudus. Apalagi, sebagai penggemar bawang putih, saya cukup peka dengan aromanya yang khas. Kuah soto dalam mangkuk berukuran kecil ini bening dan berwarna kekuningan, mirip soto ayam. Rasa kuahnya gurih. Suwiran daging ayam kampungnya empuk. mudah hancur dalam mulut. Taburan daun kucai dan taoge pendek mentah membuat penampilan sotonya makin menggiurkan. Saya tambahkan sedikit kecap, perasan air jeruk nipis, dan sambal. Hmm... kuah sotonya jadi terasa lebih nikmat!
    Tahu Pong Semarang-nya juga membuat saya jatuh hati. Perpaduan tahu pong yang garing, telur ayam rebus, gimbal udang yang kering dan gurih terasa makin sempurna dengan kuah petisnya yang kental. Apalagi disantap bersama acar lobak yang asam segar. Enak tenon!
    Dari sekian banyak rumah makan yang saya datangi, hanya Restoran Puri Handayani, rumah makan ala Jawa Timuran, yang menyajikan hidangan Kol Nenek yang lezat. Kol nenek adalah sejenis keong laut yang ukuran cangkangnya sebesar saw ruas jari. Aroma taoco dan jahenya terasa kuat. Cara menyantap kol nenek, yang juga dikenal dengan nama konde nenek, ini sangat unik. Keong harus disedot agar dagingnya yang tipis dan lembut keluar dari cangkang. Awalnya, saya agak sungkan melakukannya. Tetapi, karena penasaran, saya tetap mencobanya. Rasanya gurih dan manis. Akhirnya, di antara kami bertiga, sayalah yang paling banyak menghabiskan makanan ini.
    Gurami Mangga Muda juga menjadi andalan di resto ini. Mendengar namanya, sudah terbayang kelezatannya. Rasa asam segar dari daging buah mangga muda, pasti membuat selera makan makin meningkat. Selain itu, saya juga memesan Rujak Cingur yang `banjir' burnbu petis. Cingurnya tidak alot, rasa petisnya cukup kuat, rasa gurih dari kacangnya pun sangat terasa. Karena udara yang makin dingin, saya memesan segelas Bandrek Kelapa Muda. Cita rasanya yang pedas khas jahe, langsung menghangatkan tubuh saya.
    Kalau Anda penggemar mi jawa, Bakmi Jawa Gunung Kidul yang menyediakan Mi Godog, pantang dilewatkan. Mi kuning, kol, telur kocok, claim bawang, daun seledri, dan suwiran ayam berpadu klop dengan kuah berbunibu bawang putih, merica, dan kemirinya. Bila ingin lebih spesial, dapat ditambahkan hati ayam atau ampela ayam. Kerinduan suasana kampung di Jawa pun makin terobati dengan menyantap hidangan ini.
    
   
   Di kawasan Puncak, terdapat beberapa rumah makan hidangan Cina yang sudah terkenal sejak lama. Salah satunya, Rumah Makan Kalimantan. Saat menyebut nama resto ini, sehari sebelum perjalanan, seorang teman langsung menceritakan pengalaman masa kecilnya saat makan bersama keluarga di rumah makan ini. Menurutnya, Nasi Tim di resto ini paling top dibandingkan dengan restoran lainnya. Selain itu, Bistik Daging dan Mi Ayam-nya pun punya banyak penggemar.
    Berbekal rekomendasi tersebut, saya pun memesan makanan itu. Nasi Tim-nya kelihatan tak ada beda dari nasi tim lain. Hanya, nasi tim-nya bukan berisi suwiran daging ayam, melainkan ayam potongan yang masih bertulang.Walau begitu, dagingnya empuk dan mudah dilepas dari tulang. Cita rasa dan aroma harum kecap inggrisnya pun cukup nendang. Menyantap nasi tim sambil sesekali menyeruput kuah kaldu ayam bening dan mencomot acar mentimun, dapat memuaskan rasa penasaran saya terhadap Nasi Tim favorit teman saya ini.
    Usai menyantap Nasi Tim, Bistik Daging mendapat giliran selanjutnya. Daging sapi cincang bersalut tepung yang digoreng garing disajikan dengan saus mentega yang kental berwarna kecokelatan.Walau penampilannya berkesan kuno, rasanya lezat! Saya juga segera mencicipi Mi Ayam. Rasa mi keriting ini memang beda, kenyal, dan gurih. Mi yang digunakan adalah home made warung makan ini sehingga terjamin kesegarannya.
   
   Bagi penyuka hidangan dari kodok, Anda dapat singgah ke Rumah Makan Jangkar. Saya hanya mencicipi kuah dan secuil daging kodok karena kurang doyan hidangan yang hidup di dua alam ini. Bumbu mentega, kecap manis, dan asin berbaur menjadi satu sehingga daging kodok ini terasa lezat. Dagingnya empuk dan lembut mirip daging ayam. Kali ini giliran Dennie yang menyantap habis Kodok Masak Mentega hingga licin tandas.
    Di kawasan Puncak ini, saya juga menemukan satu makanan yang belum pernah saya coba sebelumnya, yaitu Kerang Merica Hitam. Umumnya, daging sapi yang biasa menjadi kawan bersanding merica atau lada hitam. Tapi, di Gading Resto, justru kerang hijau. Kerang hijau digoreng terlebih dahulu sebelum ditumis bersama merica hitam. Rasanya pedas, agak manis, dan gurih.
    Daging kerangnya tidak hat seperti daging kerang rebus, melainkan terasa garing karena digoreng renyah. Selain Kerang Merica Hijau, saya juga mencicipi Dim Sum berupa Hakau Udang. Saat digigit, kekenyalan udang dan rasa manisnya sangat terasa, menandakan udang yang digunakan masih fresh.

    Pernah dengar nama Bakso Setan? Dari namanya, memang agak membuat bulu kuduk berdiri. Namun, Bakso Setan ini bukan bakso buatan makhluk halus, melainkan bakso dengan ukuran yang tak biasa. Bayangkan, ada yang seukuran bola golf, bola tenis, bahkan bola sepak. Wah! Setiap butiran baksonya berisi campuran daging cincang, lemak, dan urat yang telah dibumbui hingga mirip kornet. Baksonya empuk dan kuah kaldunya terasa gurih.Taburan bawang goreng dan daun seledri membuat aromanya makin harum.
   
   Selain bakso, cakue pun dapat menjadi pilihan untuk mengganjal rasa lapar. Di Raffles Resto, Cakue Jumbo adalah sajian yang jadi andalan. Satu porsinya berisi empat cakue berukuran besar. Di sini, bumbu cocol untuk cakuenya berupa bumbu kacang yang telah digiling halus dan agak encer, bukan kuah encer berwarna merah kekuningan seperti cakue medan.
    Yang tak bisa dilupakan adalah kulit cakue yang renyah dengan bagian dalam yang lembut. Pas juga untuk dijadikan oleh-oleh. Saya cukup leluasa memilih makanan di tempat ini karena ada banyak pilihan. Selain hidangan Cina, ada juga menu Sunda, pasta, steak, dan seafood.
    Untuk membeli oleh-oleh atau sekadar camilan selama perjalanan, saya sempatkan untuk membeli kue sus di Toko Kue Makmur yang berlokasi tepat di bawah jembatan Pasar Cipanas.Yang menarik, isi kue susnya berupa vla yang sangat terasa susu dan rumnya. Kulit susnya juga empuk dan lembut.
    Beranjak dari Toko Kue Makmur, saya mencium aroma pandan yang cukup kuat.Ternyata benar, tak jauh dari jembatan Pasar Cipanas, saya melihat seorang bapak tua yang menjajakan kue putu sambil dipikul. Bentuknya seperti kerucut dan ukurannya cukup besar dibanding kue putu kebanyakan. Itu sebabnya, si penjual, Ujang, memberi nama Putu HKS alias `Hasil Kreasi Sendiri'. Sepertinya, Baru kali ini saya mencicipi kue putu yang benar-benar mantap rasanya. Warna adonan berasnya putih bersih, lembut, ha-rum, dengan porsi gula yang sangat pas. Pantas jika harganya lebih mahal dibanding putu lainnya.
   
   selain sus dan putu, kue lain yang menjadi primadona Puncak sejak lama adalah poffertjes. Satu tempat makan potfertjes yang paling banyak dikunjungi ada di Puncak Pass Resort. Saya memesan satu porsi yang berisi empat buah poffertjes. Hanya empat buah? Eit, jangan terburu-buru memesan dua porsi karena ukurannya tidak seperti poffertjes lain. Di sini, diameter penganan khan negeri Belanda ini cukup besar, yaitu sekitar 6 cm. Taburan gula bubuk di atasnya menjadi pemanis penganan ini. Sesuap poffertjes mengingatkan saya pada rasa dan aroma dadar gulung semasa kecil yang sangat terasa campuran tepung dan telurnya. Menyantapnya selagi hangat sambil menikmati pemandangan lembah, membuat saya sesaat terlena....
  
   tempat yang juga ingin segera saya kunjungi pada perjalanan ini, tak lain adalah Melrimba Kitchen. Namanya memang seunik tempatnya. Tempat ini cocok sekali jadi pilihan untuk berlibur bersama keluarga karena tidak hanya ada restoran, tapi juga kebun bunga dan kolam pemancingan. Di sini, saya memesan Pisang Goreng Kipas bersalut tepung garing. Walau bahan dasarnya hanya pisang, penganan ini menjadi istimewa dan tampak berkelas karena penyajiannya yang stylish. Saus krim karamel, butter, dan gula palem bersanding bersama pisang goreng.
    tidak ketinggalan, saya juga memesan Pancake yang penampilannya sangat menggiurkan. Apalagi dessert ini disajikan bersama es krim vanili kesukaan saya. Setiap suapnya, benar-benar saya nikmati. Aroma susunya yang harum dan gurih sangat terasa di lidah. Rasa dingin dan harum vanili pun menyeruak dalam rongga mulut. Hmm... nikmat sekali!
    sambil melaju menuju Jakarta, saya dan kedua teman masih ingin mampir di Cimory Resto. Cimory atau Cisarua Mountain Dairy ini memang selalu ramai dikunjungi rombongan keluarga. Tak jarang terlihat anak-anak berkeliaran di halaman belakangnya yang penuh dengan aneka jenis permainan. Kekhasan Cimory Resto terletak pada susu segarnya.
    saya yang termasuk penggemar berat susu, membawa pulang hingga 6 botol susu berukuran masing-masing 1 liter, untuk dinikmati bersama keluarga. Favorit saya adalah susu aroma kopi. Rasa susunya yang fresh berpadu dengan rasa dan aroma kopi yang pekat, memang layak untuk diacungi jempol.
    selain susu, saya cicipi juga yoghurtnya yang tersedia dalam beragam pilihan rasa.Ada stroberi, anggur, dan apel. Selain susu segar, Cimory Resto juga menyediakan sosis bratwurst yang populer di Jerman. Semuanya cocok sebagai buah tangan, karena harganya lebih murah dibanding jika membelinya di pasar swalayan.
TIPS BELANJA BUAH & SAYUR
   Tak afdal rasanya jika Anda tak membawaoleh-oleh berupa buah dan sayuran segar made in Puncak. Bila ingin berbelanja, simak tip berikut: Berbelanjalah di kawasan dengan lebih dari satu kios agar Anda dapat memilih kios yang dengan harga jual yang lebih murah dari kios lain. Luangkan waktu lebih untk berbelanja. Waktu yang sempit kadang membuat Anda menyerah pada harga yang ditawarkan penjual, tanpa menawar terlebih dahulu.
   Siapkan uang receh agar usaha Anda menawar harga buah dan sayur tidak sia-sia hanya karena penjual sulit mendapatkan uang kembalian. Kenali waktu musim buah karena harga buah yang sedang musim biasanya lebih murah dibanding buah yang tidak musim.

Wisata kuliner Doclang bogor

resep Doclang bogor
   Namanya mungkin cukup asing bagi Anda yang tidak tinggal di kota Bogor. Doclang memang tidak sepopuler makanan khas Bogor lain seperti taoge goreng atau asinan, misalnya. Tetapi penggemar doclang sendiri tidak sedikit, lo. Mari kita cari ada di mana sajakah makanan khas Bogor yang nikmat ini.
   DOCLANG ADALAH makanan khas tradisional Bogor yang masih bertahan sejak zaman baheula hingga scat ini. Karena di Bogor penggemarnya masih sangat banyak. Sebetulnya isinya sederhana saja, terdiri atas irisan lontong ukuran besar yang dibungkus daun patat, kentang, tahu, kerupuk, dan telur rebus. Kemudian disiram bumbu kacang yang dicampur aneka macam rempah dan sedikit pedas. Ditambah kecap secukupnya, dan sambal bagi yang suka pedas. Makanan jajanan ini, pas untuk sarapan pagi dan juga dinikmati di malam hari. Rasanya gurih dan sedikit manis.
   Di Kota Bogor, pangkalan pedagang doclang yang cukup dikenal adalah di daerah pusatjajanan pedagang kaki lima Jembatan Merah Jalan Veteran. Di daerah ini, sepanjang emperan toko dari ujung Jalan Mantarena sampai samping kios makanan Pasar De Vries sebelah Plaza Jembatan Merah, pedagang doclang mangkal bersama pedagang makanan lainnya. Paling tidak ada lima orang pedagang doclang dari petang hingga dini hari, mangkal di lokasi tersebut.
   Mak lcoh (60) adalah salah satu pedagang doclang di sana. la berjualan di pagi hari mulai pukul 07.00. Pangkalan gerobak dagangan Mak Icoh mangkal di Jalan Mantarena samping Toko Terang. Mak Icoh yang melanjutkan usaha almarhum suaminya, Jumahi (meninggal 12 tahun yang lalu), melayani pelanggannya didampingi anak perempuannya, Irma, dan menantunya. Pelanggan setia Mak Icoh tak bosan untuk menyantap Doclang, ditambah lagi konsumen baru yang ingin tahu nikmatnya Doclang Mak Icoh. Mereka ada yang makan doclang di tempat dan ada pula yang dibungkus untuk disantap di rumah.
   Tiap pagi Mak Icoh jualan hingga pukul 10.00-11.00-an. Harga seporsi docolang Rp 6 ribu dengan telur. Tanpa telur menjadi Rp 5 ribu. Menurut Mak Icoh yang bertempat tinggal di daerah Panaragan Kidul Bogor Tengah Kota Bogor ini, pelanggannya bukan saja orang Bogor, tetapi juga orang luar Kota Bogor. Penyanyi asal Bogor seperti Betharia Sonata, adalah salah seorang penggemar doclang Mak lcoh dari saat sekolah di SMA sampai telah berkeluarga.
   Saat ini Mak lcoh, mengaku hanya membuat kupat atau lontong sebanyak 10 bungkus. Tiap bungkus kupat yang dibungkus daun patat ini, diiris menjadi sekitar 5 piring.
   Seorang pedagang doclang lain yang mangkal di pagi hari di depan toko kaset musik di Jalan Veteran adalah Rachmat. Dia bergantian dengan adiknya, Rosmana yang jualan di malam hari sekitar pukul 21.00 hingga pagi pukul 07.00. Rachmat yang juga pedagang rokok di tempat ini, merangkap jualan doclang yang dibuat oleh kakaknya Aos.
   Rachmat berjualan doclang dari pukul 07.00-pukul 21.00. Baik Rachmat m a upun Rosmana, memperoleh upah dari jatah doclang yang disediakan oleh Aos "Setiap dagang saya mendapat upah Rp 30 ribu dari kakak saya demikian pula adik saya" kata Rachmat yang setiap hari diberi jatah 30 lontong itu.
Adapun harga jual Doclang per piring Rp 4 ribu tanpa telur, tambah telur Rp 5 ribu per piring.

Lima Pedagang
   Di emperan toko di Jalan Veteran ini , salah seorang dari 5 pedagang doclang yang terlama dan terbanyak jumlah dagangannya adalah Mimir Suminta (52) warga Kampung Leuweung Kolot Kecamatan Cibungbulang Kabupaten Bogor.
   Mimir mengaku melanjutkan usaha jualan bapaknya, Miat, sejak tahun 1970 an. Konon sang ayah sudah berjualan doclang sejak tahun 1950 an di emper toko di Jalan Veteran. "Jadi saya boleh dibilang penjual doclang generasi kedua," kata Mimir.
   Dia berangan-angan mengembangkan usaha doclang ke daerah Bogor Barat dari Darmaga sampai Jasinga. Setidaknya hal itu sudah dimulai, tiga anak dari delapan anaknya sudah jualan doclang di Darmaga, Cibungbulang dan Leuwiliang, tinggal meneruskan lagi ke arah Barat menuju Jasinga.
Mantan pedagang sayur di Pasar Kramat Jati Jakarta Timur ini, tiap hari dibantu Hermawanto, anaknya yang kedua sekaligus magang sebelum dilepas. Mulai jualan doclang sekitar pukul 16.00 hingga tengah malam. Setiap hari Mimir mengaku bisa menghabiskan sekitar 20 an lontong yang menjadi 150-an porsi. Kalau malam hari libur seperti Sabtu malam Minggu, jatah lontongnya ditambah 10 bungkus sehingga menjadi 30 bungkus lontong setara dengart 200-an piring doclang. Adapun harga jual doclangnya, Rp 4 ribu perpiring tanpa telur dan Rp 5 ribu per piring tambah telur -Pelanggan Mimir, di antaranya adalah warga Kota Bogor yang pulang kerja naik KRL dari Jakarta. Sekitar pukul 19.00 berdatangan, ada yang makan di tempat ada pula yang dibawa pulang ke rumah.

Jalan Aria Surialaga 
   Sementara itu, penjual Doclang lainnya yang cukup beken di Kota Bogor adalah Pak Odik (65). Lokasi jualannya di Jalan Aria Surialaga (dulu Jalan Pasir Kuda) tak jauh dari Pondok Pesantren Al-lhya.
Tiap hari dia berjualan didampingi isterinya, Rohana, dan kedua anak lakilakinya masing-masing Ismail dan Royadi. Sejak tahun 1995 Odik menempati lokasi jualannya yang mengontrak lahan warga setempat di Jalan Aria Surialaga. Lokasinya cukup strategis, mudah dijangkau. Sebelumnya Odik dagang berkeliling sekitar 10 tahunan di seputar Desa Gunung Batu.
   Semula lapak Odik hanya cukup untuk perabot dagangan dan satu bangku panjang. Dari lahan yang sempit itu, kini tempatnya menjadi lebih luas. Dia kembangkan setahap demi setahap, akhirnya mampu membangun bangunan warung untuk berteduh pelanggannya menikmati doclong. "Kalau penuh, mampu menampung 30-an orang yang duduk di bangku panjang," kata Odik seraya menambahkan warungnya juga dilengkapi dengan toilet tanpa dipungut bayaran, sebagai salah satu pelayanan untuk pelanggannya.
   Dari sejumlah pedagang doclang di Bogor, Odik-lah yang membuat lontong ukuran besar. Beras 1 liter menjadi lontong 2 bungkus. Untuk satu bungkus lontong menjadi 12 porsi. "Sebuah Resto di Bogor menjadi pelanggan, setiap butuh lontong dia menelepon untuk dibuatkan lontong 4 bungkus. Untuk setiap lontong ukuran besar itu, saya hargai Rp 15 ribu," kata Odik
   Sehari-hari Odik menghabiskan 15 lontong. Namun bila hari libur bisa mencapai 2 kali lipat. Untuk telur hari-hari biasa dibutuhkan sekitar 200-an butir. Hari libur bisa mencapai 500-an butir telur. Demikian pula ratusan tahu digoreng dan sejumlah kentang di rebus."Kalau hari Minggu, ibu-ibu pulang ngaji di Pesantren Al Ihya, pada makan doclang di sini dan juga minta dibungkuskan untuk oleh-oleh keluarganya di rumah," kata Ibu Rohana seraya menyebutkan volume penjualan doclang diukur dari banyaknya lontong yang habis terjual.
Odik enggan menyebutkan berapa besar pendapatannya sehari-hari dari penjualan doclang. Namun yang pasti, Odik menyebutkan biaya operasional saja belum termasuk belanja tiap hari mencapai Rp 300 ribu. Jumlah ini, untuk biaya transpor pergi-pulang dari Leuweung Kolot-ke Pasir Kuda dan uang jajan kedua anaknya masing-masing Rp 15.000.
   Dari usaha doclang, Odik mengatakan mampu menghidupi isteri dan 8 anaknya. Sekarang Odik telah dikaruniai 12 cucu. Dan sejak tahun ini, dia mampu mengangsur mobil angkot untuk angkutan dagangannya tiap pagi dan selebihnya narik penumpang, sekitar Rp 2 juta lebih tiap bulan.
   "Dua menantu dan satu anak saya telah menjadi pedagang doclang," kata Odik yang telah mantap menjadi pedagang doclang sampai tua.
   Odik merasa enggan melayani pemilik restoran untuk usaha bersama dengan keuntungan dibagi dua. "Kalau dagang bermitra, untungnya dibagi dua. Mending dagang sendirian, untungnya untuk kits sendiri meski sedikit," kata Odik
   Selain Odik dan Mimir, Mak Icoh juga separuh hidupnya menjadi pedagang doclang. Mak Icoh kini, dikarunia 7 anak, 15 cucu dan 2 buyut. Suaminya dulu menjadi pedagang doclang sejak tahun 1980 an. Sejak dulu hingga sekarang, Mak Icoh hidup dari doclang. Yang bakal menjadi penerusnya kemungkinan besar adalah Irma yang kini sehari-hari mendampinginya.
   Dari keterangan Odik dan Mimir, diperoleh keterangan pedagang doclang di Kabupaten/Kota Bogor boleh dibilang kebanyakan asal Leuweung Kolot Cibungbulang. "Tiap hari lebih dari 30 pedagang doclang pulang pergi dari kampung ke kota Bogor jualan doclang. Mereka sebagian besar jual pikulan," kata Odik dan Mimir.
Hanya Mak Icoh ( asal Pasir Mucang Bogor) dan almarhum suaminya ( asal Cibadak Sukabumi) yang bukan orang asal Leuweung Kolot. Dan juga Rachmat dan adiknya yang asal Cianjur.
   Odik dan Mimir mengklaim, desa tempat tinggalnya yakni Letiweung Kolot adalah desa doclang karena sejak dulu hingga sekarang bertahan menjadi pusat pedagang doclang. Makanan jajanan tradisional ini, mampu menghidupi sebagian warga desa Leuweung Kolot dan tetap bertahan hingga sekarang serta penggemarnya masih bertahan baik di desa maupun di kota.

Wisata kuliner Wonosari Gunung Kidul

resep Wisata kuliner Wonosari Gunung Kidul
   Gunung Kidul? Wah, mendengar namanya, ingatan pun melayang pada krisis air yang kerap melanda wilayah ini. Ibukotanya adalah Wonosari. Jaraknya kira-kira 40 km ke arah selatan Yogyakarta. Meskipun demikian, wilayah ini punya sejumlah hidangan yang membuat kita ketagihan, lo. Coba saja sayur lombok ijo yang pedas bersantan. Mau seafood murah? Langsung saja ke pantai Baron sekaligus berwisata. Untuk oleh-oleh, ada olahan tiwul yang pulen dan nikmat.
Ayam Goreng sri pendowo
   Jika Anda penyuka ayam kampung gurih yang digoreng renyah, rumah makan ini wajib dikunjungi. Menu yang ditawarkan memang hanya ayam goreng. Anda bisa pilih ayam goreng utuh jika hendak bersantap bersama keluarga. Seekor dijual dengan harga Rp 45 ribu. Namun ukurannya cukup besar. Jadi bisa untuk bersantap 4 - 6 orang. "Orang sini memang suka 1 ayam yang besar," jelas Ny. Andi (60), pemilik usaha ini.
   Jika tak mau utuh, Anda bisa membeli yang potongan. Ada kepala, hati ampela, dodo mentok (dada), dan pupu gending (paha). Semuanya digoreng garing bersama lapisan tepung yang renyah dan gurih. Meskipun ayam kampung berukuran besar, namun tak perlu usaha keras memakannya karena sungguh empuk. Untuk dada dan paha dijual Rp 9.500 perpotong. bersama sambal terasi yang cukup pedas plus lalapan.
   Soal tempat, tak perlu khawatir karena rumah makan ini cukup besar. Bisa menampung hingga 80 pengunjung. Lokasinya ada di JI. KH Agus Salim No. 58. Telp (0274) 391546. Rumah makan yang berdiri sejak tahun 1982 ini buka setiap hari sejak pukul 9 pagi hingga pukul 8 malam.
   Dulunya ayam ini bernama ayam bangkong. Namun karena tersandung persoalan nama merek, akhirnya diganti menjadi Sri Pendowo. "Soalnya anak saya 5 orang, laki-laki semua. Jadi saya beri nama 'Pandawa' saja," jelas Andi soal nama rumah makannya.

Sate Kambing Pak Turut
   Di Wonosari nama sate kambing pak Turut yang paling punya nama. Maklumlah, sudah dirintis sejak tahun 1979 dan punya 4 kedai yang lumayan ramai. "Saya mengelola 3 kedai, dan 1 kedai oleh adik saya," jelas Ny. Mini (39), putri almarhum Bpk Turut yang meneruskan usaha ini.
   Saking ramainya, saat makan siang biasanya Mini sudah membakar satenya hingga setengah matang agar lebih cepat penyajiannya. Sate dibakar di atas bakaran berbahan bakar arang. Sebelumnya, sate terlebih dulu direndam dalam bumbu yang disebut kopyokan. Bumbu kopyokan ini terdiri dari aneka rempah plus kuah gulai yang dimasak hingga 4 jam lamanya hingga agak mengental. Sate kemudian dibakar hingga matang dan disajikan bersama irisan kol dan timun plus sambal kecap.
   Pilihan satenya pun beragam. Ada sate daging, hati, atau campur. Dalam sehari, Mini mengaku butuh 3 - 4 ekor kambing gemuk untuk memenuhi kebutuhan sate di 3 kedainya. Selain sate, juga tersedia tongseng, gulai. Bahkan tongseng kepala dan kaki kambing pun juga ada. Harga hidangan ini berkisar antara Rp 8 - 13 ribu per porsi.
   Kedai utama miliknya terletak di JI. Kesatriaan No. 63 . Telp (0274) 7489282. Untuk dalam kota, tersedia juga cabang diJI. Yogyakarta. Sedangkan di luar kota lokasinya ada di Karang Mojo dan Ngricik. Kedai ini buka setiap hari sejak pukul 8 pagi hingga pukul 5 sore.

 
 Tiwul Yu Tum
   Nah, inilah sebenarnya hidangan paling khas dari daerah Gunung Kidul.. Ya, tiwul. Makanan ini berbahan dasar gaplek (singkong yang dijemur), diparut kasar. Hidangan ini dulu digunakan sebagai pengganti nasi. Namun oleh perintisnya, Ny. Tumir3h (72), tiwul dikemas dengan lebih cantik dengan rasa • yang dimodifikasi. "Dulu tiwul berbentuk kasar dan rasanya tawar," jelas Bpk Slamet (32), sang menantu yang kini membantu mengelola usaha ini.
   Tiwul kemudian digiling lebih halus dan diberi tambahan rasa dari gula jawa. Rasanya sungguh nikmat dan lembut. Apalagi di toko ini Anda bisa mendapatkan yang masih panas mengepul langsung dari dapurnya. Slamet menggunakan bahan dasar tiwul kasar yang dihaluskan kembali. Kemudian dicuci dan dibuat adonan tiwul. Ada dua pilihan, tiwul biasa dan coblong. Tiwul E3iasa menggunakan gula yang dilarutkan dalam adonan sehingga rasa gulanya merata. Sedangkan coblong menggunakan pecahan gula merah langsung sehingga meleleh dalam adonan.
   Anda bisa membeli yang irisan atau satu tumpeng utuh. Harganya antara Rp 5-20  ribu.Tersedia juga tumpeng besar seharga Rp 45 ribu untuk acara pesta atau acara lainnya.
    Selain tiwul, ada juga gatot. Kalau yang ini menggunakan gaplek utuh yang direndam air kapur sirih semalaman, lalu diirisiris tipis. Kemudian dijemur hingga berwarna kehitaman akibat tumbuhnya jamur. Setelah itu dicuci bersih dan dikukus hingga matang. Ini untuk rasa asin. Untuk rasa manis, gatot dimasak kembali dengan larutan gula jawa yang dicampur nangka dan jahe untuk memperkaya aroma dan rasa.
Dalam sehari dibutuhkan 40 kilogram tiwul dan 40 kilogram gaplek untuk membuat gatot. Toko oleh-oleh ini terletak di JI. Pramuka No. 36. Telp (0274) 7889300 - 081328741792. Buka setiap hari sejak pukul 06.00- pukul 17.30. Selain itu juga tersedia lempeng singkong, krecek, emping singkong, hingga belalang goreng khas Gunung Kidul.
Bakso Muncul
   Soal bakso, nama ini yang mengemuka di Wonosari. Seporsi bakso berisi sebuah bakso berukuran besar, mi, tahu goreng yang diirisiris, tetelan, dan pangsit goreng berukuran cukup besar. Meskipun besar, baksonya begitu lembut dan empuk. Seporsi bakso dijual dengan harga Rp 5 ribu.
   Kedai bakso ini terletak di JI. Pramuka No.2. Hp. 081328064270. Lokasinya tak terlalu jauh dengan tiwul Yu Jum. Kedai sederhana dengan nuansa bambu dan kayu ini cukup luas. Bisa menampung hingga 80-an pengunjung.
   Buka setiap hari sejak pukul 9 pagi hingga pukul 9 malam. Dalam sehari kira-kira 30 kilogram daging sapi yang dibutuhkan untuk membuat bakso. "Kalau akhir minggu, bisa lebih banyak lagi," ujar Marji (30), yang membantu mengelola usaha milik Bpk. Rismanto ini.
   Selain di sini, Bakso Muncul juga memiliki cabang di JI. Baron dan di daerah Siraman.
 
RM Kondang Rasa

   Jika ayam Sri Pendowo bercitarasa gurih asin, di sini ayam dimasak dengan rasa manis alias baceman. Di sini per ekor ayam bisa diperoleh dengan harga Rp 40 ribu. Selain itu juga tersedia paha, dada, hati ampela, dan kepala. Pembeli bisa memilih dulu, Baru digoreng. Sehingga ayam selalu hadir dalam keadaan panas. Rasanya enak sekali. Dileagkapi dengan sambal, lalapan, dan sayur godong kates (daun pepaya).
   Ayam ini sebelumnya diungkep dengan bumbu bacem selama dua jam agar meresap bumbu. "Bisa direbus 2 jam soalnya pakai ayam kampung jadi dagingnya lebih kuat," jelas Ny. Susi (47), pemilik usaha ini.
   Selain ayam goreng, rumah makan ini juga menyediakan nasi merah, sayur lombok ijo, bacem jeroan sapi hingga soto ayam. Dalam sehari, Susi mengaku membutuhkan 70 - 80 ekor ayam. Maklum saja, cukup banyak kantor dan perusahaan yang memesan nasi dus dirumah makannya. "Biasanya orang yang hendak berwisata ke pantai Baron akan mampir ke sini untuk makan," imbuhnya.
   Rumah makan ini terletak di JI. H. Agus Salim No. 101. Telp (0274) 391364. Kapasitasnya cukup besar mencapai 100 pengunjung. Buka setiap hari sejak pukul 7 pagi hingga pukul 9 malam.
 
Seafood Pantai Baron

   Pantai ini memang menjadi daya tarik utama wisata pantai di Gunung Kidul. Jaraknya sekitar 20 kilometer dari kota Wonosari, ke arah selatan. Melewati ladang singkong dan hutan jati yang cukup rimbun. Sebenarnya ada sederet pantai dalam komplek pantai ini yang dipisahkan bukit. Selain Baron, ada juga pantai Kukup, Krakal, dan Sundak. Namun untuk wisata kuliner hanya ada di pantai Baron dan sedikit di pantai Kukup. 
 
     Di sini  Anda bisa memperoleh aneka seafood fresh yang baru ditangkap oleh para nelayan. Ada semacam tempat pelelangan ikan di tengahnya. Di tempat ini dijual aneka ikan, rajungan, cumi, udang, hingga lobster. Harganya pun cukup miring jika Anda getol menawar. Kalau beruntung, lobster bisa diperoleh dengan harga 50 ribu. Namun Anda tak perlu membelinya dalam ukuran kilo. Bisa juga    kita mengambil secara campuran, lalu menawar harganya. Harga yang ditawarkan sudah termasuk ongkos masak, lo. Pilihannya ada saus asam manis, saus tiram, digoreng atau dibakar. Usai memilih, Anda tinggal menunjuk kedai mana yang hendak digunakan bersantap.    Kedai-kedai    ini menyediakan nasi dan minuman saja.
    Semua hidangan ini juga dimasak dengan anglo dan arang. Jadi aromanya khas. Semua kedai ini beroperasi setiap hari sejak pukul 6 pagi hingga 4 sore. Tak jarang pedagang ikan pun ikut membeli di sini.
   Selain seafood di kedai, kawasan ini juga menawarkan udang    goreng tepung yang fresh sebagai oleh-oleh. Ada juga rempeyek dari udang dan jingking (sejenis kepiting kecil-kecil). Di pantai Baron juga terdapat sungai bawah tanah yang dapat dijadikan area berenang dengan aman.

 Warung Jirak

   Inilah kedai yang paling dituju oleh masyarakt di kawasan Yogya dan Jawa Tengah untuk menyantap hidangan khas Gunung Kidul. Ya sego abang (nasi merah) dan sayur lombok ijo memang salah satu makanan khas di sini. Lokasinya ada di JI. Raya Wonosari - Semanu KM 7, sebelum jembatan Jirak jika Anda datang dari Wonosari. Tak ada papan nama yang dipasang. Namun kedai ini mudah dikenali dengan warnanya yang biru terang.
   Saat tiba, kita akan ditanya berapa orang yang akan bersantap. Selanjutnya, hidangan pun bermunculan ala rumah makan padang. Ada nasi merah, sayur lombok ijo, sayur daun pepaya, ayam kampung goreng, empal, trancam, ikan wader goreng kering dan tumis jeroan sapi yang dibacem. Tak semuanya harus disantap. Cukup ambil secukupnya. Seberapa banyak yang diambil, itulah harga yang akan dihitung. Paket nasi, sayur lombok ijo dan sayur daun pepaya bisa disantap dengan harga Rp 3 ribu saja.
   Sayur lombok ijo yang menjadi incaran pelanggan. Padahal sayur ini hanya berisi tempe dan irisan cabai hijau yang cukup banyak dan dimasak dengan santan. Rasa gurih manis santan berpadu dengan pedasnya cabai hijau. Hm.. lezat! "Memang sayur ini yang kata pelanggan ngangeni," seloroh Ny. Mamik (35), yang membantu mengelola usaha sang ibu, Ny. Purwanto (58).
   Kedai ini berkapasitas pengunjung 60 orang. Bisa bersantap di meja makan atau lesehan. Buka setiap hari sejak pukul 6 pagi hingga 4 sore. "Namun nasi merahnya baru tersedia mulai pukul 9 pagi," imbuh Mamik.

Bakmi Jawa
   Pengaruh Yogya tentu masih kuat di Wonosari. Menjelang malam, cukup banyak kedai bakmi jawa mulai bermunculan. Salah satu yang cukup ramai adalah kedai bakmi milik Bpk. Yanto (27), yang mangkal di JI. Brigjen Katamso, alun-alun Wonosari, tepat di seberang Bank BPD DIY.
   Bakmi jawa berkomposisi mi yang masak dengan campuran telur, kol, sawi, bakso, kekian dan suwiran ayam kampung. Lalu ditaburi seledri dan bawang goreng sebagai penambah selera. Bisa digoreng atau direbus. Sesuaikan saja dengan selera saat itu. Mau pedas atau sedang saja, juga bisa langsung disampaikan pada sang koki.
   Salah satu kunci kenikmatannya juga ditentukan penggunakan kaldu ayam kampung serta daging ayam kampung yang begitu gurih. Lebih mantap lagi jika ditambahkan taburan merica. Sungguh cocok disantap saat malam menjelang.
   Di kedai ini tersedia juga nasi goreng, bihun goreng/rebus, capcay hingga nasi mawut (nasi goreng campur mi). Rata-rata hidangan ini dibandrol dengan harga Rp 5 ribu per porsi.
Yanto membuka kedainya sejak jam 5 sore hingga 11 malam setiap harinya.